Pembagian Jenis Tauhid dan Hubungan di antara Jenis-jenisnya

Tags

,

Sebagaimana kita ketahui bahwa tauhid dalam Islam terbagi menjadi tiga, tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan tauhidul asma` was shifat, hal itu karena memang konteks pentauhidan Allah, semua bermuara kepada perkara yang menjadi kekhususan Allah, sedangkan kekhususan Allah itu ada tiga, yaitu rububiyyah, uluhiyyah dan asma` was shifat.

Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan definisi tauhid dalam istilah syari’at secara umum adalah

إفراد الله سبحانه بما يَخْتَصُ به من الربوبية، والألوهية و الأسماء و الصفات

Mengesakan Allah Subhanahu dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya, yaitu rububiyyah, uluhiyyah, dan asma` was shifat”. Continue reading

Advertisements

Apa hikmah adanya miskin dan kaya?

Tags

Banyak sesungguhnya hikmah dari fenomena adanya si miskin dan si kaya, namun berikut ini sebagiannya saja dari hikmah-hikmah tersebut.

1. Agar makhluk mengetahui Kemahaesaan Allah dalam pengaturan mereka (mentauhidkan Allah dalam Rububiyyah-Nya)

Dengan adanya orang yang miskin dan yang kaya, maka seorang hamba terdorong menyakini dengan keyakinan kuat, bahwa hanya Allah lah Sang Pemilik alam semesta ini dan Dia lah satu-satunya Dzat Yang Maha Esa dalam mematikan, mengidupkan, menakdirkan, mengatur alam semesta ini, dan dalam seluruh makna-makna Rububiyyah-Nya.

Rabbul ‘Alamin ‘Azza wa Jalla berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (Al-Faatihah).

Continue reading

Nasehat bagi yang mendapatkan rezeki yang sedikit

  1. Segala kenikmatan dan kesempitan yang Allah berikan hanyalah sebagai cobaan semata, bukan sebagai penghormatan atau penghinaan. Dengan cobaan itu, akan tampak orang yang bersyukur dengan orang yang bersabar, atau kebalikannya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,

    فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

    (15) “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’”.

    وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

    (16) “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku’”.
    كَلَّا
    (17) “Sekali-kali tidak (demikian)” (Al-Fajr:15-17).
    Maksudnya bahwa hakikat persoalannya tidaklah sebagaimana yang diperkirakan oleh manusia.

  2. Sesungguhnya barangsiapa yang bersabar dengan sedikitnya rezeki di dunia dan bersabar atas keterluputan mendapatkan rezeki yang banyak di dunia, maka Allah akan menggantinya dengan kenikmatan yang sangat besar di Surga dan ia akan melupakan musibah yang dirasakannya sewaktu di dunia. Bahkan satu kali celupan saja di Surga, akan menyebabkan sirnanya seluruh lelah-letih dan derita sewaktu di dunia, meski ia adalah orang yang paling menderita sewaktu di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطَُّلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

    “Kemudian didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari penduduk  Surga, lalu ia dicelupkan satu kali celupan ke dalam Surga. Kemudian ditanya, ‘Wahai keturunan Adam, apakah engkau pernah melihat penderitaan sebelumnya sedikit saja? Apakah angkau pernah merasakan kesengsaraan sedikit saja?’ Orang itu berkata, ‘Tidak demi Allah, wahai Tuhanku, aku tidak pernah melihat penderitaan dan tidak merasakan kesengsaraan sama sekali sebelumnya’”. (HR. Muslim).

Apa hukum belajar ilmu Akidah

Tags

, ,

Mempelajari Ilmu akidah secara umum hukumnya wajib bagi seorang Muslim. Namun para ulama membaginya menjadi dua bagian. Yang bersifat fardhu ‘ain, yaitu ilmu akidah secara global (Ijmaali). Dan yang bersifat fardhu kifayah, berupa rincian rincian ilmu akidah (Tafshiili).11 Akidah ahlu sunnah secara global seperti keyakinan adanya Allah, malaikat, para nabi, dan kitab kitab yang diturunkan, serta akan datangnya hari kiamat dan sebagainya. Dalam hal ini wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari dan mengetahui serta meyakininya, dan berdosa jika ditinggalkan. Adapun rincian hal hal tersebut, seperti mengenal nama nama malaikat dan tugas tugasnya atau rincian kejadian di hari kiamat dan sebagainya, maka hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Jika sebagian kaum Muslimin sudah mempelajarinya dengan benar, maka menjadi gugur kewajiban kaum muslimin yang lain untuk mempelajarinya.

Continue reading

Kapan seorang hamba dikatakan cinta kepada Rabb-nya?

Tags

,

Berikut tanda-tandanya:

  1. Mendahulukan kecintaan pada apa yang menjadi kecintaan Allah, meski terkadang tidak selaras dengan nafsunya, dan membenci segala sesuatu yang menyebabkan-Nya murka. Allah berfirman (QS Al-Jatsiyyah: 23),

    أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ

    Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)

  2. Loyal kepada siapa saja yang loyal kepada Allah serta Rasul-Nya dan memusuhi siapa pun yang memusuhi Allah serta Rasul-Nya. Allah‘Azza wa Jalla berfirman,

    قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

    Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”.
    Continue reading

Apakah rukun syahadat Laa ilaaha illallah?

Tags

, , ,

Adapun rukunnya ada dua, yaitu:

  1. menafikan segala sesuatu sesembahan yang ada di jagad raya ini, kecuali Allah
  2. menetapkan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya.

Rukun pertama diwakili kalimat ‘لا إله’ sementara rukun kedua terkandung dalam kalimat ‘إلا الله’. Ketua ulama Jawa di Makkah Al-Mukarramah sekaligus salah satu penandatangan dokumen kesepakat ulama Makkah dan Nejed dalam masalah ‘aqidah tauhid yang kemudian diterbitkan dengan judul Al-Bayan Al-Mufid, Muhammad Nur bin Isma’il Al-Fathani (w. 1363) menjelaskan dalam Kifayah Al-Muhtadi Syarh Sullam Al-Mubtadipada halaman ke-9, “Karena pada makna ‘لا إله إلا الله’ itu menafikan ketuhanan daripada yang lain daripada Allah dan menetapkan ketuhanan itu bagi-Nya jua.”

Apakah syarat sah nya Laa ilaaha illallah?

Tags

Berikutnya adalah syarat-syarat sah ‘لا إله إلله’:

  1. Ilmu yang menafikan ketidaktahuan.
    Allah berfirman (QS Muhammad: 19), “Ketahuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.”
    Dalam pada surat Az-Zukhruf ayat ke-86, Dia berfirman, “Kecuali orang yang mepersaksikan al-haq sementara mereka mengetahuinya
    ”.Para ulama menafsirkan, orang yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mereka mengetahui maknanya dalam hati terhadap apa yang ia ucapkan lisannya. Dinyatakan dalam Shahih Al-Bukhari, dari ‘Utsman –radhiyallahu ‘anh-, ujarnya, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Siapa yang mati dalam keadaan mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, ia pasti masuk surga’”.Artinya hendaknya orang yang mengucapkan syahadat ‘لا إله إلا الله’ mengetahui makna tentang apa yang diucapkannya, bukan asal berucap tanpa mengetahui maksudnya. Jika hanya sekedar berucap tanpa mempedulikan maknanya, lantas apa bedanya dengan burung beo?
    Continue reading